Kemarin aku mengantar anak ku yang sakit ke dokter langganan di bilangan Kediri Tabanan. Biasa basa-basi antara pasien dengan dokter selalu terjadi di awal ketemu. Namun ada satu hal yang membuat aku sempat tersinggung dengan joke nya
.
—————————————————-
Aq: Dok, mengenai penyakit anak saya, apakah ada kemungkinan kambuh lagi ??? sekarang kebetulan pas dia liburan jadi bisa di ajak ke dokter oleh bapaknya. Biasanya anak saya ini sekolah di Jawa dan jauh dari kota.
Dokter: Memangnya anaknya sekolah di Jawa mana ???
Aq: Sekolah di pondok pesantren.
Dokter : pondok pesantren ?!? di Ngruki ya !!! (sambil tersenyum. mode on : heran & kaget)
Aq: Bukan dok, di Tremas Pacitan. Tempatnya SBY.
Dokter: Oh,…. saya kira di Ngruki.
Aq:
——————————————————
Itulah penggalan dialog antara aku dengan seorang dokter spesialis kandungan tersebut. Mungkin kalimat tersebut keluar hanya secara spontan dari bibir seorang dokter yang sok akrab dengan pasien nya. Tetapi dari sebuah joke yang tidak pada tempat dan waktu yang tepat bisa membawa dampak yang di luar dugaan. Termasuk pada diriku ini.
Cerita ini mungkin saya percis dengan yang dialami rekan dari BaliBlogger. Dia sewaktu mengirim sebuah paket di kantor pos, sempat keluar celetukan dari petugasnya. Mungkin maksud dari dokter dan petugas kantor pos itu hanya sekedar basa-basi guna mencairkan suasana, tapi apakah mereka tidak berpikir bahwa gara2 joke nya itu senyum yang semestinya keluar di akhir perjumpaan diganti dengan rasa dongkol yang membara ?!?
.
Mungkin juga diriku yang super sensitif sehingga tidak bisa menerima joke yang mungkin menurut dia biasa saja. Tapi yang membuat diri ini sedikit bimbang adalah kenapa setiap orang yang sekolah di pondok pesantren selalu di identikan dengan terorist kekerasan bom Ngruki
.
Aku sendiri gak tahu
.
2 September 2009 at 00:53
Hmm.. memangnya ada apa dgn ponpes Ngruki mas?
Sudah sebegitu parahnyakah tuduhan2 media ttg ponpes ini shg membentuk image yg seperti ini?
Padahal tuduhan2 bahwa ponpes ngruki terlibat dlm aksi “teroris” dan entah apalah namanya lagi yg menyesatkan itu tidak pernah terbukti.
3 September 2009 at 00:33
Au juga gag tahu jeng, yang jelas ustadz abu bakar jadi korban fitnah. Makasih telah mampir.
2 September 2009 at 09:03
hehe, poso2 kok sensi seh, mas.
3 September 2009 at 00:24
Iya sih, mungkin bawaan kali karena pas masuk ruang prakteknya eh…. didalam ternyata berdua dengan ceweq
terus kena gitu jadi tambah sensi
.
3 September 2009 at 12:20
Hanya bisa menghela nafas panjang, nggak bisa menyalahkan siapa2 dan memang sebaiknya tidak mencari siapa yang salah. Ya semoga saja kita menjadi lebih bijak, jangan lekas mendoktrin seseorang tanpa alasan yang jelas.
5 September 2009 at 04:46
hehehe.. ditempat saya juga ada dokter senior yang terkenal kalau omongannya bisa bikin sakit hati yg pasien dengar.
misalnya saja, “memangnya saya tau, kalau situ misalnya besok mati bagaimana?”… lhah.. apa gak kaget pasien denger dokter ngomong begitu.
tapi berhubung sudah tau kebiasaan dan pembawaan beliau, yaa cuma bisa menyiapkan kuping selebar-lebarnya, biar masuk kanan keluar kiri.
5 September 2009 at 12:51
jangan terpancing bro ntar jadi kasus prita 3 heheh peace….
6 September 2009 at 02:28
@wira: seharusnya memang begitu

@pakacil: itu mah treatment si dokter terhadap pasien nya kali
@dendin: engak bro, bukan terpancing tapi tersentil
6 September 2009 at 07:44
Mampir di kunjungan kedua saya..
saya gak terlalu suka rumah sakit..jadi gak punya pengalaman serupa..hehehe
salam rimba raya lestari
7 September 2009 at 10:44
wah, itu sih dokter gak berpengalaman blas… dia tuh tahunya cuma ngruki…. dasar dungu… sabar ya mas… massih banyak dokter bagus lainnya… itu dokter gak mutu blas… salam sukses…
sedj
http://sedjatee.wordpress.com
16 September 2009 at 16:14
iya mas, sing sabar yo..