Kemarin aku mengantar anak ku yang sakit ke dokter langganan di bilangan Kediri Tabanan. Biasa basa-basi antara pasien dengan dokter selalu terjadi di awal ketemu. Namun ada satu hal yang membuat aku sempat tersinggung dengan joke nya :evil: .

—————————————————-

Aq:  Dok, mengenai penyakit anak saya, apakah ada kemungkinan kambuh lagi ??? sekarang kebetulan pas dia liburan jadi bisa di ajak ke dokter oleh bapaknya. Biasanya anak saya ini sekolah di Jawa dan jauh dari kota.

Dokter: Memangnya anaknya sekolah di Jawa mana ???

Aq: Sekolah di pondok pesantren.

Dokter : pondok pesantren ?!? di Ngruki ya !!! (sambil tersenyum. mode on : heran & kaget)

Aq: Bukan dok, di Tremas Pacitan. Tempatnya SBY.

Dokter: Oh,…. saya kira di Ngruki.

Aq: :twisted:

——————————————————

Itulah penggalan dialog antara aku dengan seorang dokter spesialis kandungan tersebut. Mungkin kalimat tersebut keluar hanya secara spontan dari bibir seorang dokter yang sok akrab dengan pasien nya. Tetapi dari sebuah joke yang tidak pada tempat dan waktu yang tepat bisa membawa dampak yang di luar dugaan. Termasuk pada diriku ini.

Cerita ini mungkin saya percis dengan yang dialami rekan dari BaliBlogger. Dia sewaktu mengirim sebuah paket di kantor pos, sempat keluar celetukan dari petugasnya. Mungkin maksud dari dokter dan petugas kantor pos itu hanya sekedar basa-basi guna mencairkan suasana, tapi apakah mereka tidak berpikir bahwa gara2 joke nya itu senyum yang semestinya keluar di akhir perjumpaan diganti dengan rasa dongkol yang membara ?!? :???: .

Mungkin juga diriku yang super sensitif sehingga tidak bisa menerima joke yang mungkin menurut dia biasa saja. Tapi yang membuat diri ini sedikit bimbang adalah kenapa setiap orang yang sekolah di pondok pesantren selalu di identikan dengan terorist kekerasan bom Ngruki :?: :!: :?: .

Aku sendiri gak tahu :roll: .