Melayani Keluhan Konsumen

lha ini kan baru di gigi satu sudah getar apalagi gigi dua

Dalam melayani pelanggan memang seharusnya kita menempatkan mereka sebagai raja, namun kalau mengada-ngada dan salah dalam meminta pelayanan apa masih kita bisa menganggap raja :?: semestinya sih masih saja kita merajakan tapi harus diberikan pemahaman yang benar agar tidak salah lagi :lol: Dan hal ini beberapa hari yang lalu sempat saya alami dan saya lakukan meskipun dengan sedikit menahan geli.

Ceritanya memang sudah menjadi kerjaan sehari-hariku karena memang sebagai seorang frontline people di tempatku bekerja, diri ini memang harus berhadapan langsung dengan konsumen. Dan dalam melayani konsumen meskipun sudah ada aturan jelas di atas kertas tapi dalam pelaksanaan di lapangan kadang kita tidak bisa mengadopsinya secara plek 100%. Karena konsumen itu seorang yang tidak bisa diduga. Ada yang penurut, ada yang minta sedikit dijelaskan dengan sedikit ngotot baru mereka ngerti bahkan ada yang dengan sedikit menantang baru mereka paham. Tapi yang jelas dalam melayani konsumen diri ini selalu menganggap mereka sebagai orang buta (maaf bukan meremehkan sahabat yang mempunyai kekurang dalam penglihatan ini).

Tapi yang jelas dengan menposisikan mereka sebagai orang buta, otomatis kita menganggap mereka tidak tahu dengan kondisi yang ada di depan mata (meskipun terlihat jelas). Makanya para raja itu tetap saja diri ini anggap sebagai orang buta. :lol: dan kejadian yang diri ini alami memang benar terjadi di tempat kerja diri ini. Ceritanya ada konsumen yang baru membeli sepeda motor di tempat kami. Namun baru dikirim sore hari besok paginya datang lagi dengan membawa motor baru tersebut ketempat kami. Datang dari rumah dengan membawa rasa kecewa serta membawa anaknya yang masih balita. Begitu datang langsung saja menyampaikan keluh kesah tentang sepeda motor yang tidak sesuai dengan ekspektsinya.

Dan kebetulan diri ini tidak menerima keluhannya karena sedang menghandle job yang lain. Dan yang ketiban sial ini (diri ini katakan ketiban sial karena memang sial dengan melakukan pekerjaan yang sia-sia) seorang teman. Setelah menerima keluhan dan mencoba sepeda motor baru tersebut sesuai dengan keluhan konsumen tetap saja sang teman belum bisa meyakinkan konsumen dengan jawaban yang menenangkan. Padahal sudah ada setengah jam lebih sepeda motor itu dicoba oleh sang teman. Karena sudah mentok dan menyerah, langsung saja diri ini diserahin keluhan dari ibu tersebut.

Saat menerima limpahan kerjaan ini, diri ini tetap saja melakukan prosedur standar dari keluhan konsumen. Yang pertama kali diri ini lakukan adalah menanyakan keluhan yang dialami oleh konsumen. Dijelaskan oleh teman bahwa keluhan nya adalah sepeda motor bergetar saat dijalankan. Langsung saja diri ini mengecek odometernya, ternyata masih di angka 8.6 KM. Langsung saja diri ini berpikir pasti ada yang salah dengan keluhan ini, dan diri ini punya senjata untuk mematahkan keluhan tersebut.

Setelah dicoba beberapa kali putaran dengan kecepatan yang bervariasai, dari akselerasi cepat, kecepatan tinggi maupun kecepatan rendah, diri ini masih belum merasakan keluhan yang dirasakan oleh sang ibu teesebut. Setelah dirasa cukup, langsung saja diri ini melanjutkan mengorek keterangan dari sang ibu bagaimana keluhan ini bisa terjadi. Saat ditanya pada kecepatan berapa motor ini mulai getar :?: dijawab bahwa kecepatannya baru beberapa karena masih di gigi (perseneleng) 1 motor sudah getar. Dan diri ini kejar lagi dengan pertayaan, apa saat getar itu ibu tidak menaikan gigi (perseneleng) nya lagi :?: dijawab dengan entengnya “Tidak !! lha ini kan baru di gigi 1 sudah getar apalagi di gigi 2”. Gedubrak !!

Walah…… ini yang jadi inti permasalahan dari keluhan sang ibu tersebut. Maka dengan sabar (karena sabar tidak ada batasnya) diri ini menjelaskan dengan panjang lebar tentang prosedur pengunaan sepeda motor type cub (bebek). Bahwa sepeda motor jenis ini menggunakan perseneleng (gigi) yang non otomatis dan harus dilakukan perpindahan gigi sesuai dengan kecepatan yang dilalui. Jangan sampai kecepatan motor sudah mencapai kecepatan maksimal dari satu gigi (perseneleng) tapi malah tetap tidak dinaikan. Ya jelas akan getar tho bu…… bu…… lha kecepatan sudah mencapai 70Km/jam tapi giginya masih di gigi 1 :lol: :mrgreen:

Namun inti dari permasalahan keluhan sang ibu yang bisa diri ini tangkap, adalah dalam menerima permasalahan cari dulu akar permasalahan nya. Kenapa keluhan ibu ini belum terdeteksi oleh teman, karena inti yang dikeluhkan oleh sang ibu ini tidak ditangkap oleh teman yang menangani. Seandainya sang teman bisa mengorek informasi yang dalam dari keluhan tersebut tentunya keluhan ini tidak akan berlama-lama ngantung dan akan mendapat jawaban yang menenangkan sang ibu. Tapi ya memang begitulah tipikal dari konsumen, ada seribu macam type dari sejuta type konsumen yang ada. :razz:

About these ads

9 Balasan ke Melayani Keluhan Konsumen

  1. nique mengatakan:

    nantikan tayangan besok ya mas, konsumen yang ini (nunjuk diri) abis ngamuk2 di kantor orang hahaha … jangan diwalik ya mas, jangan mikir klo mas yang diamuk hahaha …

  2. Agung Rangga mengatakan:

    hehe, semangat pak dalam melayani konsumen~ :D

  3. isnuansa mengatakan:

    Hmmm, berarti Pak Sugeng ini orang yang sabar. :)

  4. jarwadi mengatakan:

    wah, pak sugeng :)

  5. Kaget mengatakan:

    Wah Pak, ngga disarankan pakai matic, biar si ibu makin tenang :D

  6. a! mengatakan:

    berarti, bahasa yg digunakan dalam komunikasi ini penting banget biar mudah ditangkap.

  7. puterayana mengatakan:

    ada 1 solusi lagi pak…
    minta supaya beli matic lagi..
    jualan motor dapat, masalah juga teratasi..
    hehehehehe

  8. dir@admin mengatakan:

    kunjungan pertamax,salam newbier,kunjung baliknya,selamat tahun baru mas 2012

  9. Phie mengatakan:

    sabar, Pak.. orang sabar disayang Gusti Allah :)
    tapi lucu juga itu konsumennya. :mrgreen: sepertinya ibu-ibu itu belum pernah sekali pun memakai motor bebek ya? haaduuuh.. :lol:

Silakan Komentar Bebas Tanpa Moderasi Namun Admin Berkuasa Untuk Mendelete

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 118 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: