Tekhnologi Menjamah Anakku

melarang tanpa memberi solusi bukan suatu yang bijak. Membolehkan tanpa pengawasan sama saja melepas anak ke sarang penyamun

Tidak dapat ditolak tidak pula dapat dibendung. Yang namanya perkembangan tekhnologi akhirnya juga menyentuh semua orang. Termasuk anakku yang masih berumur 10 tahun pada bulan April besok. Setelah beberapa bulan lalu dia meminta HP untuk komunikasi dengan orang tua serta teman-temannya. Sekarang dia sudah mempunyai akun di facebook.😯 Mungkin bagi beberapa sahabat blogger keputusan untuk membolehkan anak yang masih di bawah umur bermain-main dengan facebook yang hampir tidak ada filter moralnya adalah keputusan yang tidak bijak, namun bagi diri ini hal ini sudah di pikirkan untung ruginya. Dan tidak lepas dari pengawasan melekat setiap waktu B-)

Ada cerita menarik saat anak kedua ku itu mulai bersentuhan dengan tekhnologi handphone (HP yang diri ini belikan untuknya tidak mahal2 amat sebatas HP lowend yang ada MP3,MP4 serta foto). Ceritanya setiap malam saat Dia tidur, diri ini mengendap-endap serasa detektif swasta seperti film bioskop mencari informasi tentang isi yang ada di HP. Baik memorycard maupun SMS yang ada di inbox. Bukan terlalu mengekang namun cuman sebagai antisipasi akan hal-hal yang tak pantas untuk anak yang masih dibawah umur. Hasilnya masih dalam hal wajar untuk anak seusia Dia. Meskipun ada SMS berantai yang isinya dapat merusak aqidah apabila tidak diluruskan secara benar.

Cerita menarik itu adalah salah satu SMS dari dan untuk anak tetangga sebelah, anak perempuan yang satu kelas lebih tua darinya. Diri ini sendiri tidak tahu berapa nomer HP anak tetangga itu. Koq anehnya dia tahu dan sering SMS an yang tidak penting2 amat. Padahal diri ini tahu bahwa anakku itu tidak pernah berinteraksi dalam pergaulan sehari dengannya. Namun dari isi SMS nya ceritanya mengalir utara-selatan. Dan saat diri ini telusuri dari awal SMS itu ada yang menarik utuk diri ini cermati. “Dari mana kamu tahu nomerku ?” begitu SMS dari isma (sebut saja nama anak tetangga itu). “Ya tahu aja” tulis anakku. “Ayo ngaku, dari mana kamu dapat nomerku Yock” balas isma tak kalah sengit nya. Meski lewat tulisan SMS diri ini bisa merasakan kengototan ucapan nya.

“Dari nomer HP yang kamu beli dirumah, aku catet dan aku simpen” balas anakku. GEDUBRAKKK !!!!. Membaca jawaban SMS itu diri ini mau tertawa yang disertai kekagetan dengan cara anakku mendapatkan nomernya. Padahal diri ini sendiri tidak pernah berpikiran sejauh itu namun hal itu sudah dilakukan oleh anakku. Terus terang saja hal itu juga menjadi pertimbangan diri ini kenapa sering mencari tahu tentang isi di dalam HP nya.

Dan untuk internet, memang setiap hari PC di rumah selalu online dikarenakan untuk YM transaksi pulsa HP dan token listrik. Jadi bisa digunakan setiap waktu karena diri ini menggunakan layanan flexy untuk data unlimited nya. Dan saat siang hari memang anak keduaku sering menggunakan untuk main game online dan sesekali buka facebook dan saat buka facebook kembali game juga yang dimainkan. Jadi bulet dimana2 selalu game yang dimainkan. Namun yang diri ini kuatirkan adalah pertemanan yang ada di facebook nya. Karena (terus terang) yang di ajak berteman itu kebanyakan bukan anak-anak yang ada di lingkunganku saja tapi sudah merambah kemana-mana. Maklum saja dunia maya ini memang tanpa batas meski raganya nongkrong di rumah tetapi jiwanya melalang buana ke seantero bumi.

Dan sudah beberapa kali diri ini menemukan foto yang vulgar yang bukan konsumsi untuk anak dibawah umur ada di dinding FB nya. Langsung saja diri ini sembunyikan dan langsung laporkan sebagai spam. Dan aktifitas ini, diri ini lakukan saat malam hari sebelum mematikan PC. Karena email dan password nya sudah tahu, langsung saja diri ini telusuri semua dinding FB nya barangkali ada gambar atau link yang tidak pantas langsung delete. Hm…. memang harus lebih waspada dengan anak jaman sekarang. Karena perkembangan tekhnologi yang kian pesat, melarang tanpa memberi solusi bukan suatu yang bijak. Membolehkan tanpa pengawasan sama saja melepas anak ke sarang penyamun, yang bisa saja melihat dengan kecamata terbalik tentang norma-norma yang ada.

Mungkin dari sahabat blogger yang mempunyai anak yang beranjak remaja bisa sharing bagaimana seharusnya bersahabat dengan tekhnologi bagi anak-anak. Karena apa yang diri ini lakukan meski dengan kehati-hatian pasti akan beresiko namun resiko ini bisa diminimalisir bilamana kita memang benar-benar berbut terbaik dan terbenar untuk si buah hati.

8 Balasan ke Tekhnologi Menjamah Anakku

  1. Lidya mengatakan:

    saya harus belajar juga nih pak, anak2 masih kecil tapi kalau mereka sesekali ingin nonton youtube atau main game di internet saya dampingi

  2. Idah Ceris mengatakan:

    Halo, Om.
    Lama gak main kesini nih.😛

    Saya belum mempunyai anak om, gimana nih?😀

    10 Tahun tuh seperti ponakanku. Sekarang kelas 4. Baru2 ini dia juga dibelikan HP sama Bapaknya. HP tersebut untuk hadiah karena dapat peringkat di kelas.

    Bapaknya mengijinkan dia menggunakan HP kalau sudah di rumah. Fasilitas internet di rumah pun dibatasi. Dia hanya bisa mengakses google, Sosial media dan media online lainnya disett. Terkecuali Game Online.😉

    Semoga bisa mengontrol anak2 dengan baik ya, Om.🙂

  3. Erwin mengatakan:

    sering2 diajak komunikasi aja pak. ngobrol seperti teman. mencoba setia menjadi pendengar dia.
    biasanya dengan begitu nanti si anak akan curhat dengan sendirinya.
    jika dia salah jangan langsung menegur, tp dilaihkan dgn kata2 lain. sebab bisa jadi suatu saat nanti akan menyembunyikan kesalahan karena ada rasa takut.

    (ini sekedar pelajaran yg saya dapat dan saya lihat dr lingkungan sekitar saya)

  4. Pakies mengatakan:

    Saya pun melakukan hal yang sama Kang pada anak-anak. Mengoreksi isi hape dan laptop mereka, dan mereka tahu ini karena sudah saya komunikasikan dengan mereka. Hanya saja mereka nggak sampai tahu bagaimana saya mengececk kemana saja mereka berseluncur.
    Jadi, kita tidak bisa membendung kemajuan jaman yang semakin pesat ini dengan aneka omongan ini dan itu, yang bisa kita lakukan adalah dengan berkomunikasi

  5. applausr mengatakan:

    saya belum mengalami hal ini pak.. masih kecil anak saya. Tapi mungkin ada baiknya di ajak komunikasi saja. Selalu terbuka dengan pertanyaan mereka. Karena kalau ngomongin teknologi ga bisa dihindari. mau tidak mau harus dihadapi. Mungkin cara yang paling elegan adalah menjadi teman yang baik buat anak anak. IMHO.

  6. Kukuh Nova Putra mengatakan:

    Pengawasan orang tua sangat perlu ketika anak mempunyai gadget, apalagi dia masih berumur 10 tahun.
    Bagus juga mas kalo setiap malam mengecek hp sang anak🙂

  7. tuxlin mengatakan:

    Wah harus sering2 diawasi pak🙂

  8. filter air mengatakan:

    iya juga, kadang masih ada konten2 yang belom ter saring, butuh pengawasan lebih sih.

Silakan Komentar Bebas Tanpa Moderasi Namun Admin Berkuasa Untuk Mendelete

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: