Cerita Si Bawang Putih

Kondisi ini sama dengan membunuh ….

Sudah menjadi kebiasan istriku bilamana setelah belanja kebutuhan sehari-hari di warung dekat rumah, pulangnya menceritakan tentang kondisi harga-harga yang selalu berubah. Dan berubahnya ini jarang berubah menjadi lebih kecil angka nominalnya tetapi selalu berubah menjadi lebih besar. Setelah daging sapi, telur, ayam, dan terakhir yang menjadi ceritanya adalah bawang putih. Bukan bawah putih yang selalu menerima perlakuan tidak manusiawi dari saudaranya si bawah merah namun harga bawang putih yang sudah melangit.

Padahal sekitar setahun yang lalu, bawang putih sampai pada harga yang sangat murah. Saking murahnya, sampai semua bumbu masak yang menggunakan bawang sebagai bahannya istriku menggunakan bawang putih tanpa ada bawang yang lain (bawang merah ataupun bawang bombay). Penyebabnya adalah bawang putih saat itu harganya sangat murah. Saking murahnya sampai para petani tidak berminat untuk menanamnya. Bagaimana mau menanam dengan jerih payah yang berat kalau saat panen cuma dihargai 2000 rupiah.😯 harga segitu tidak dapat untuk membeli 1.5 liter air mineral botolan.

Si bawang putih bikin menjerit

Si bawang putih bikin menjerit

Sayangnya lagi, saat para petani menjerit dengan harga yang tiarap drastis peran pemerintah sebagai pengambil regulasi tidak ada sama sekali. Malah dengan harga yang cuma segitu, bawang putih dari negeri china masuk menyeruak sampai di pusat produksi bawang di daerah pegunungan sana. Kalau di kota mah, lumrah karena tidak ada lahan untuk bercocok tanam. Namun ini di sentra pusat produksi bawang, mereka tidak tertarik lagi untuk menanamnya.

Kesempatan ini di manfaatkan oleh para importir bawang yang dengan jeli melihat peluang dengan memasukan bawang murah sebanyak-banyaknya. Masyarakat dan pemerintah Indonesia senang dengan kondisi ini. Namun sayangnya pemerintah terlena dengan kondisi ini. Mereka membiarkan situasi ini berjalan tanpa ada upaya untuk mengalakan menamam bawang. Kondisi ini sama dengan membunuh para petani bawang di negeri sendiri. Petaninya memang dikondisikan seperti ini (tidak menanam bawang putih), akhirnya semua kebutuhan bawang putih bergantung dari pasokan (impor) dari luar negeri.

Sekarang mereka para importir bawang mulai memainkan kukunya dengan menaikan harga sampai selangit. Karena mereka tahu bahwa produksi bawang putih dalam negeri tidak akan mencukupi kebutuhan. GILA ….!!! harga bawang putih sekarang mencapai 38000 rupiah per kilonya. Berarti harga itu sudah hampir naik 2000 %. Dan harga itu belum final, bisa jadi besok-besok akan naik lagi. Tinggal bagaimana para importir itu akan membuat peran di negeri ku tercinta. Mau dibuat kalang kabut atau mereka perlahan namun pasti menghisap “uang masyarakat”. Karena tanpa ada campur tangan pemerintah untuk mengatasi hal ini, diriku akan tetap menerima laporan tentang harga yang selalu berubah setiap hari dari istriku tercinta.

Walah, tulisanku ini koq menerjang kemana-mana, padahal awalnya cuma sekedar laporan istriku tentang si bawang putih yang sudah menjadi jawara.😆

NB: gambar diambil dari sini

5 Balasan ke Cerita Si Bawang Putih

  1. Lidya mengatakan:

    saya kalau belaja kurang memperhatikan harga pak, biasanya main ambil yang sudah terbungkus diplastik lalu dijadikan satu dengan belanjaan lain dan dihitung

  2. applausr mengatakan:

    memang ini negara sudah kebelinger dengan import yang lebih mudah dan gampang… padahal itu cuma trik doang biar kita terlena akhirnya mati semua petani kita… hiks..

    • Sugeng mengatakan:

      Kondisi ini sama dengan harga daging sapi serta kedele beberapa saat yang lalu. Saya curiga ini memang ada permainan dari para importir karena peran pemerintah sangat-sangat lemah.

Silakan Komentar Bebas Tanpa Moderasi Namun Admin Berkuasa Untuk Mendelete

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: