Maaf Ini Tidak Dijual

masih banyak cara mencari mencari duit yang lebih halal dan barokah dari pada mencari keuntungan diri sendiri namun akan membuat kerusakan

Sehari-hari biasanya istriku lebih banyak di rumah menjalankan fungisnya sebagai ibu rumah tangga. Dan dalam mengisi kesibukan di rumah selain merawat labib, istriku membuka usaha laundry skala kecil dan berjualan jajanan anak-anak di depan rumah. Segmen pasaranya sih gak terlalu muluk-muluk karena kalau laundry nya super dumper ramai malah dia tidak bisa menghandle sendiri. Kalau jualan jajanan itu hanya untuk anak-anak yang sering main dan nongkrong di depan rumah. Ya pokoknya asal tidak bengong saja, dia sudah senang. Bagiku sih gak masalah, asal dia masih bisa menangani tanpa meninggalkan tugas pokonya sebagai ibu bagi anak-anaknya.

Namun beberapa hari yang lalu (tepatnya seminggu) diriku menyembunyikan barang dagangan yang ada di lapak jualan istriku. Mestinya sih bukan barang dagangan istriku, tapi di titipi oleh seseorang yang pernah menitipkan petasan saat tahun baru kemarin. Saat itu petasan nya maunya diriku sembunyikan juga, namun karena beberapa pertimbangan aku biarkan saja petasan itu meskipun dalam hati melihat banyak kemudhoratan dalam petasan.

Nah, sekarang orang yang sama kembali menitipkan barang dagangannya kembali. Namun kali ini sangat tidak bisa diriku tolerir lagi. Barang titipan itu berupa kotak undian (bahasaku menyebut KOLAS) yang berhadiah macam-macam dari hanger, jajan snack, rokok, minuman kaleng sampai panci pengorengan. Sedang kotak undian nya berupa lubang banyak yang berisi angka-angka dan kalau beruntung dapat hadiah2 itu. Sedang kalau tidak beruntung cuma dapat angka dan gelang karet. Sampai disini saja diriku sudah melihat bau untung-untungan dan menurutku sudah menjurus ke pembelajaran judi. JUDI ?!? Ha…. !!! ini yang melatarbelakangi diriku kenapa barang dagangan tadi kusembunyikan.

Judi berawal dari yang beginian

Judi berawal dari yang beginian

Bukan diriku sok religi, alim dan tidak mau dengan hal yang berbau untung-untungan. Ini prinsip yang tidak bisa aku tolerir. Karena bagiku dengan pembelajaran seperti ini akan membuat dampak yang luas pada anak-anak. Memang sih tidak secara langsung namun efek di kemudian hari akan membuat anak-anak mengampangkan semua masalah dengan untung-untungan. Dan lebih parah akan mencari jalan keluar dengan untung-untungan dengan JUDI. Memang sih barang titipan itu bukan 100% murni judi tapi dari hal kecil itu judi dimulai. Apa jadinya nanti suatu saat nati diriku ditanya tentang pertanggungjawaban saat dunia fana telah berakhir😕

Bagiku masih banyak cara mencari mencari duit yang lebih halal dan barokah dari pada mencari keuntungan diri sendiri namun akan membuat kerusakan (generasi) pada masa yang akan datang.

Keputusanku ini sempat ditanya oleh beberapa orang tua anak-anak yang pernah nongkrong di depan rumah. Kenapa kolas nya tidak di pajang (dijual) ? jawabanku sih singkat dan tidak terlalu membuat orang lain tertohok. Biarlah bagi orang lain cara mencari rejeki dengan cara seperti itu tidak menjadi beban. Karena ada kenalan saya juga melakukan hal yang sama dan secara hasil usaha, terus terang saya kalah jauh darinya. Biaralah sudah, bukan itu yang menjadi targetku.

Kalau hal-hal yang positif (menurutku nahi mungkar) tidak dilakukan mulai dari keluarga sendiri, mau dari mana lagi akan kita mulai❓ .

—————–

Teriring QS: Al-Maaidah 90-91)

kolas
90. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
91. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

[434] Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan Apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya Ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing Yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka’bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka’bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti Apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.

Wallahualam bi sowab

28 Balasan ke Maaf Ini Tidak Dijual

  1. Mabruri Sirampog mengatakan:

    apapun nama dan bentuk judi, semuanya perbuatan keji
    apaun nama dan bentuk judi, jangan dilakukan dan jauhii…
    *kata bang hajiii😀

  2. Lidya mengatakan:

    oh iya pak saya pernah lihat di warung, ada kotak-kotak yang dibungkus dengan kertas kado ternyata itu undian begitu, sama saja kan dengan berjudi ya. Kasihan anak-anak dari ecil sudah diajarkan berjudi

    • Sugeng mengatakan:

      Dulu saat masih di sekolah dasar saya juga pernah melakukan / membeli kolas itu namun sekarang saat kita sudah ngerti apa tetap membiarkan hal itu terjadi😕

      ##rasanya hati nurani pasti menolak

  3. jarwadi mengatakan:

    orang-orang tidak banyak yang berpikir bahwa semacam undian seperti itu adalah termasuk juga, bagaimana engga coba. di kampung saya di sini juga ada beberapa warung yang menjualnya🙂

    • Sugeng mengatakan:

      Mungkin bagi mereka yang (maaf) tipis iman, hal semacam ini tidak menjadi soal. Dengan dalih mencari pekerjaan yang halal mereka membuat dan menjual undian semacam ini. Padahal dari hukum fikih, semua pekerjaan yang membuat kemungkaran / kemudhoratan hukumnya menjadi haram.

  4. applausr mengatakan:

    kalau memang bisa dihindari sebaiknya di hindari saja… segala sesuatu yang dirasa akan membawa ke hal hal yang tidak baik, lebih baik di hindari saja.. contoh yang baik.

  5. Pakies mengatakan:

    sepakat Pak tidak menjual yang seperti itu karena akan ada banyak dampak nggak mendidik pada anak-anak justru meracuni mereka pada pemikiran undian dan keberuntungan apalagi hadiahnya sangat nggak cocok buat anak-anak

  6. Mugniar mengatakan:

    Waaah yang begitu itu ramai juga di warung2 sini Mas. Memang itu judi. Suami saya selalu mengingatkan. Jangan jual yang begitu …. untung mas Sugeng aware, banyak orang tidak sadar lho.

  7. pakde sulas mengatakan:

    pakde sangat mendukung tindakan sampean, karena pakde juga melarang istri menjual barang yang berbau kolas

  8. monda mengatakan:

    wah aku ndak tau tentang kolas ini mas …belum pernah lihat …

  9. sakti mengatakan:

    setuju 1000% om, berantas judi kecil-kecilan kayak begini ini, kalau disadari memang banyak judi yang terselubung misalnya tebak-tebakan skor bola dll lebih banyak mudharatnya, memanjangkan angan-angan, dan kalau angan itu g kesampaian jadinya stres & menghalalkan segala cara… ngeri…

  10. hp yitno mengatakan:

    Bagus sob.
    Kasihan anak kecilnya. Udah nggak dapet hadiah. Laper lagi. Mendingan buat beli jajanan. Enak dan mengenyangkan.

    Anak-anak masih belum mengerti betul. Jadi penjual yang harus punya kesadaran.

  11. Anita mengatakan:

    yang terpenting kita berusaha yg terbaik, pasti akan jadi lebih baik semuanya

  12. Mr. Andry mengatakan:

    Judi itu haram walau sekecil apapun

  13. Rawins mengatakan:

    wah jaman sekarang hadiahnya komplit bener ya..?
    jaman aku kecil dulu paling-paling permen cecak..

  14. Che Susanto mengatakan:

    Salut, Bang. Tapi, masih mending jualan lotre daripada korupsi, kan?

  15. marsudiyanto mengatakan:

    Dijual lewat blog saja Mas…😀

  16. marsudiyanto mengatakan:

    Tadi pagi saya dengar Radio Retjo Buntung, pas acara Kajian Rohani kok ada pertanyaan yang diajukan oleh Pak Sugeng Tabanan…
    Apa betul?

  17. Necky Effendy mengatakan:

    jalannya rizqi hanya Allah yang Maha Tahu….semoga Mas Sugeng selalu mendapatkan rizqi yang halalan dan thoyiban

  18. endar mengatakan:

    judi…. judi… meracuni kehidupan

  19. Ikuta Ngeblog mengatakan:

    Itu benar sekali, perjudian itu berari yang kecil jugan dan lalu berpengaruh ke pian besaar,
    Itu bisa membuat orang emosi kalo tdak mndapatkan hadiah alias blum brntung, dan malah malah bisa melakukan hal tercela agar bisa membeli lagi, krena ambisinya ingin untung
    Dan juga seorang istri adalah tanggung jawab suami, kita harus jaga bener bener
    Salam sukse,,

  20. Ikuta Ngeblog mengatakan:

    Tambahan
    Itu kalo di tempat saya boyolali jawa tengah namanya LOTRE

  21. Fiz mengatakan:

    Ternyata, alasan yang sama saat ayah ibu saya melarang beli kolas sewaktu SD dulu. Kolas itu identik dengan judi, yang dapat hadiah tentu senang, yang tidak dapat tentu sedih.

    Salam hangat dari Surabaya🙂

  22. Puspita mengatakan:

    Bagus pak, selalu konsisten dengan agama🙂

  23. Hada mengatakan:

    waduhhh begitu ya gan,,

  24. johnterro mengatakan:

    sekarang udah jarang yang jualan kayak gituan😀
    alhamdulillah
    dulu di deket rumah masih banyak yang jualan kayak gituan mas

Silakan Komentar Bebas Tanpa Moderasi Namun Admin Berkuasa Untuk Mendelete

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: