Renungan Ghazwul Fikri

 mereka yang diserang tidak menjadikan mereka yang menyerang sebagai musuh malah cenderung menjadikan idola

Setelah membaca imail yang di forward oleh teman di akun imel gratisan yang sudah menemani semanjak pertama kali kenal internet, dirku jadi berpikir bahwa memang sekarang ini yang namanya ghazwul fikri sedang berkecamuk melanda manusia Indonesia yang mayoritas muslim. Ya ghuzwul fikri, atau biasa disebut perang pemikiran atau invansi nalar. Karena orang Indonesia yang mayoritas muslim ini apabila di perangi secara kasat mata dengan mengangkat senjata, dari pemimpin sampai rakyatnya akan melawan mati-matian sampai darah penghabisan.

Namun bagaimana kalau manusia Indonesia di perangi secara pelan pikirannya ?!? tentunya mereka tidak akan sadar bahwa sedang diserang secara ideology nya secara perlahan-lahan sampai suatu saat yang benar di salahkan dan yang salah di benarkan.

Teringat permainan di sekolah (ataupun di sebuah acara training untuk menghilangkan rasa kantuk) sang guru / instruktur maju kedepan untuk memulai permainan. Sambil mendekat papan tulisan, tangan kanan memegang spidol dan tangan kiri memegang penghapus. Ssang guru berkata pada muridnya, “ Kalau tangan kanan diangkat ucapkan secara serentak SPIDOL !! dan apabila tangan kiri diangkat ucapkan dengan keras PENGHAPUS !!” “Mengerti semua ?!?” maka murid2 dengan serentak berteriak “MENGERTI BU !!”

Maka permainan pun dimulai. Tangan kanan diangkat, “SPIDOL !!” tangan kiri diangkat “PENGHAPUS!!” begitu seterusnya sampai beberapa kali. Dan selama itupun selalu benar.
Dan sekarang permainan berlanjut. Masih memegang benda yang sama dan tidak dipindah tangan, sang guru berucap “ Kalau tangan kanan diangkat ucapkan secara serentak PENGHAPUS!! dan apabila tangan kiri diangkat ucapkan dengan keras SPIDOL!!” “Mengerti semua ?!?”

Pada saat itu kebanyakan murid masih bingung dengan perubahan yang drastis itu. Tangan kanan memegang SPIDOL disuruh teriak PENGHAPUS, sedang tangan kiri memegang PENGHAPUS, disuruh teriak SPIDOL. Permainanpun dimulai, tangan kanan diangkat ada yang teriak SPIDOL karena memang spidol yang diangkat. Ketika tangan kiri diangkat, masih saja ada yang teriak PENGHAPUS karena memang memegang penghapus. Mereka yang teriak sesuai kenyataan ini disalahkan.

Permaianan dilanjutkan sampai para murid tidak salah lagi menyebut SPIDOL menjadi PENGHAPUS, dan PENGHAPUS menjadi SPIDOL. Secara kenyataan hal ini salah besar karena tidak mungkin SPIDOL menjadi PENHAPUS dan PENGHAPUS menjadi SPIDOL. Namun karena sudah pesanan yang dipaksakan, hal yang salah itu menjadi sesuatu yang benar.

Sampai disini saja sudah jelas sekali ada perang pemikiran yang sangat jelas. Sedang di negeri Indonesia ini pemaksaan ini dilakukan oleh semua hampir media baik cetak maupun elektronik. Tentunya apa yang dilakukan oleh media-media itu ada yang menjadi dalang yang support dengan lembaran lembaran bersejarah berwarna merah bergambar Sukarno-Hatta. Meskipun hal itu menyalahi sunatullah, yang HAQ menjadi BATHIL dan yang BATHIL menjadi HAQ.

Apa orang Indonesia mau menerima kenyataan yang salah itu ?!? tentu saja mereka menolak karena memamn tidak sesuai dengan suara hatinya. Namun karena pemaksaaan pemikiran itu (baca opini) dilakukan secara berkesinambungan dan sitematis maka otak (nalar) orang Indonesia berputar 180˚.

Dulu pacaran merupakan hal yang tabu (karena bertentangan dengan keyakinan agama) sekarang menjadi hal yang lumrah dan jamak dilakukan oleh anak dari keluarga muslim. Dulu manusia purba telajang dan berubah menjadi modern dengan di tandai muncul pakaian yang menutupi aurat, sekarang pikirannya berubah menjadi “modern” itu identik dengan pakainan buka-bukaan yang menguntungkan secara ekonomi bisa mengurangi bahan kainnya. Dulu indionesia tidak mengenal tempat maksiat yang bernama lokalisasi, sekarang….. tempat itu memang sangat diperlukan untuk gampangnya pengawasan. Dulu pasangan homo merupakan hal yang tabu karena merusak citra masyarakat, sekarang mereka yang merupakan pasangan homo meminta persamaan derajat karena sudah menjadi takdir dari Tuhan.

Dan masih banyak permasalahan yang dulu ditolak mentah-mentah namun sekarang orang Indonesia menerima dengan senang hati tanpa ada rasa bersalah dan malah menjadikan mereka yang BATHIL itu menjadi idola nya. Karena memang itu efek kedahsyatan perang pemikiran (ghazwul fikri). Mereka yang diserang tidak sadar bahwa pikirannya dirusak, mereka yang diserang tidak menjadikan mereka yang menyerang sebagai musuh malah cenderung menjadikan idola, mereka yang diserang tidak saja yang berada di garis depan peperangan namun sampai di lini belakang, mereka yang diserang tidak saja usia dewasa namun dimulai dari kanak-kanak dan semua itu tertutup dari Nur ilahi dari penghlihatan mereka.

Pernakah kita sadari bahwa kita sekarang ini sedang diserang secara terencana untuk menjauhkan kita umat muslim, jauh dari keyakinan nya, jauh dari ajaran agama, jauh dari Al Qur’an.
NB: hanya perenungan pribadi untuk muhashabah diri sendiri.

Silakan Komentar Bebas Tanpa Moderasi Namun Admin Berkuasa Untuk Mendelete

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: