Tilang Dan Samsat, Banyak Gak Beresnya

Beberapa hari ini diriku sangat peka dan hampir bisa dikatakan sensi dengan keadaan yang menimpaku. Bagaimana tidak, diriku yang jarang berurusan dengan aparat pemerintahan, dalam minggu ini 2 kali berurusan dengan aparat pemerintahan dan keduanya berakhir dengan “ngedumel”. Dan tulisan ini juga mau meneruskan teori tentang habits customer, bahwa konsumen yang puas akan meneruskan cerita kepuasannya pada 1 orang, dan bila tidak puas akan menceritakan ketidakpuasannya pada 10 orang. Gak tahu berapa orang yang nyasar di blog ini, yang penting diriku nulis biar uneg-uneg dihati bisa keluar.🙂

Pertama, diriku akhir bulan kemarin sempat melakukan kesalahan dalam berlalu lintas. Ada larangan tidak boleh belok, diriku menerobos saja. Sialnya pas ada oknum polisi yang sengaja nyanggong / nunggu disana di tempat yang sedikit agak gelap. Jadinya diriku yang memang ngerasa bersalah tidak ada keinganan ataupun upaya agar bisa lolos. Begitupun saat oknum polisi itu menawarkan untuk sidang di pengadilan. Aku sih iya saja karena memang salah dan memang tidak ada niatan untuk damai karena kupikir mending uangnya masuk negara dari pada masuk ke oknum tersebut. Setelah selesai nulis di surat tilangnya sang oknum polisi tersebut dengan entengnya bilang, “Eman-eman uangnya pak (untuk bayar denda pengadilan)”. AS* begitu kataku dalam hati, daripada masuk kantongmu, mending masuk negara.

Aku bukan idalis untuk urusan semacam ini, karena diriku juga pernah “terpaksa berdamai” saat tertangkap oknum polisi sewaktu lewat marka jalan di perjalanan Jawa-Bali beberapa tahun yang lalu.

Namun untuk kali ini, diriku benar-benar mau mengikhlaskan uangku untuk degara. Makanya meskipun sidang pengadilan untuk urusan sepele ini, aku tetap bresemangat padahal kalau dipikir-pikir akan lebih merepot bagiku. Tapi ya udah, segala sesuatunya telah aku persiapkan untuk menhadiri “sidang sepele” ini. Dan saat tiba waktunya, eh… ternyata diriku lepas dari mulut srigala namun dengan santai masuk mulut harimau😦
Bagaimana tidak, pada hari H sidang tersebut diriku sudah meminta ijin untuk bisa menghadirinya. Namun saat sampai dipengadilan diriku bertanya pada petugas yang piket dimana untuk mengikuti sidang tilang sepeda motor. Ternyata ditunjukan di counter informasi. Jujur saja baru kali ini diriku berniat mengikuti sidang tilang di pengadilan, dan diriku sangat “blank” tentang prosedurnya. Tapi kenapa sidang tilang koq cuman di counter informasi❓

Tanpa waktu lama, langsung saja diriku menunjukan surat tilangnya. Dan tanpa waktu lama juga diriku dikasih tahu uang denda tilangnya 60rb. Pikirku 60rb ini pasti akan masuk kas negara dan diriku akan diberikan secarik surat ataupun apalah namanya yang menunjukan bahwa aku sudah membayar denda tersebut. Ternyata dugaanku salah. Diriku langsung diberikan STNK sebagai barang bukti yang disita setelah membayar sejumlah uang tersebut, sambil dikasi tahu sudah selesai dan bisa pulang.😯
Lha koq cuma begitu aja, jadi aku ikut sidang tilang ini juga dimakan oleh oknum pengadilan. AS* !! Lepas dari oknum polisi masuk ke oknum pengadilan😥

Dan cerita berlanjut kemarin saat diriku membayar pajak kendaraan bermotor. Memang sih diriku salah (telat) membayarnya karena lupa. Ingatnya pas bulan Agustus yang sudah lewat sebulan dari tanggal jatuh temponya. Maunya, karena sudah telat sekalian saja lewat setahun mbayarnya terus sekalian nyamsat tahun 2015. Karena lewat sehari dendanya juga setahun😀 Namun karena ada kabar dari dispenda Bali bahwa ada pemutihan bagi wajib pajak yang lewat jatuh tempo bisa membayar dan tidak kena denda. Rencanaku yang mau membayar tahun depan aku urungkan dan berencana membayarnya sebelum tanggal 20/12/2014. Kemarin diriku berkesempatan membayarnya di outlet dispenda Bali yang ada di Tiada Dewata.

Dengan membawa berkas-berkasnya lengkap diriku berangkat untuk menunaikan kewajiban sebagai wajib pajak dan membayar pajak pada negara. Namun kenyataan yang diriku dapatkan tidak sama dengan berita yang ada di web dispenda bali. Diriku masih kena denda keterlambatannya. Yang jadi eneg melihatnya adalah saat berkas-berkasku yang memang telat membayar pajak dijadikan bahan tontonan antar petugas disana sambil bisik-bisik. Mungkin dikira diriku tidak tahu ada pemutihan denda keterlambatan, mereka memang sengaja membuat berkas-berkasku untuk kena denda. Karena dari semestinya membayar 170rb an diriku membayar sampai 202rb (ditambah denda keterlambatan). Padahal dari tanggal 1-20 Desember 214 semestinya tidak ada denda.

Mungkin harus bersikap keras pada petugasnya baru mereka tidak menambah denda keterlambatan saat kita membayar pajak kendaraan. Karena dari wajah mereka saja (saat kulihat sambil bisik-bisik) mereka masih ragu-ragu dalam bertindak. Mungkin melalui media blog ini uneg-uneg ini bisa diketahui banyak orang bahwa orang2 di dispenda Bali itu tidak konsisten dalam membuat peraturan. Sebagai bukti kalau saya membayar pajak dan dikenakan denda (padahal belum tanggal 20 Desember 2014) ada dalam gambar dibawah ini. Oh ya selain saya tulis di blog ini saya juga sudah menulis email langsung ke admin-dispenda@baliprov.go.id & kritik-dispenda@baliprov.go.id sambil saya tunggu tanggapan darinya.

STNK

 

Tapi yang jelas dari kedua pengalamanku itu, kita harus hati-hati terhadap mereka karena meskipun ada di lingkup pemerintahan ternyata oknum-oknum itu masih eksis berkeliaran.

2 Balasan ke Tilang Dan Samsat, Banyak Gak Beresnya

  1. Lidya mengatakan:

    masih saja ada oknum ya pak

  2. risalahsalaf mengatakan:

    aduh masalah ini memang selalu menghantui bila ada pengurusan

Silakan Komentar Bebas Tanpa Moderasi Namun Admin Berkuasa Untuk Mendelete

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: