HT, Tak lekang oleh waktu

Malam semakin larut, tak terasa Saimin dan Parino sudah ngobrol 3 jam di gerdu (pos kamling) di kampungnya berdua saja. Tanpa ada teman lain yang seharusnya ikut jadwal piket ronda malam di kampungnya. Namun begitu tidak menyurutkan semangat mereka berdua untuk melaksanakan tugas menjaga keamanan kampungnya.

Sampai suatu saat Saimin merasakan rasa ingin buang air kecil yang sudah tidak dapat ditahan lagi. Yang namanya Gerdu, pasti tidak ada toilet. Dan
terpaksa Saimin melangkah beberapa meter dari Gerdu untuk melakukan hajatya tersebut.

Mungkin karena naluri sebagai seorang penjaga Gerdu yang sudah sering dilakoninya, Saimin merasakan ada sesuatu yang aneh dengan bau2 yang sempat dihirup. Ada bau gosong dan asap yang mampir kehirup oleh hidungnya yang tidak seberapa mancung itu. Ya bau asap di tengah malam cenderung pagi ini.

Langsung saja pikirannya menerawang jauh, cukup jauh dibandingkan langkah kakinya yang akan beranjak patroli keliling kampung. ” Gak mungkin ada orang membakar sampah di tengah malam yg dingin seperti ini” guman Saimin dalam hati setelah bau aneh itu kehirup semakin jelas menjadi bau asap kebakaran.

Tak berapa lama, Saimin dan Parimo sudah beranjak pergi meninggalkan Gerdu untuk mencari sumber asap itu. Setelah kesana kemari, ternyata bau itu berasal dari sebelah barat laut dari Gerdu. Dan nampak jelas di atap rumah Bu Ayu memerah serta mengepulkan asap membumbung tinggi.

Dengan badan yang sedikit sempoyongan karena menahan kantuk, Saimin dan Parimo lari kesana kemari sambil teriak “KEBAKARAN…..KEBAKARAN…..” Teriakan itu dilakukan berulang-ulang di tengah malam saat banyak orang terlelap dalam tidurnya, sehingga sangat menguras tenaga mereka yang sudah loyo karena begadang semalaman.

Karena tengah malam, tak banyak para tetangga yang mendengar karena memang malam itu sangat dingin dan kebanyakan mereka lebih senang menarik selimut dari pada bermelek-melek ria.

Si Parimo inget mau nelpon pak RT, begitu ambil HP android nya ternyata low batt. Begitu juga si Saimin. Saat ambil HP memang baterai masih full, karena sambil berjaga tak lupa mencharger HP. Tetapi saat mau nelpon pak RT lewat aplikasi, ternyata paketan habis dan belum sempat beli lagi.

Dalam kondisi darurat begini Parimo teringat alat komunikasi yang handal dan tidak perlu pulsa, paketan internet, dan baterai yang kuat seharian. Ya, alkom Handy Talkie yang handal di kondisi apapun dan bisa jadi alat bantuan dalam kondisi darurat. Tinggal pencet PTT, langsung bisa tersambung ke seluruh warga komplek perumahan tanpa perlu susah payah lari kesana kemari hanya untuk membangunkan warga serta tetangga bahwa rumah Bu Ayu kebakaran.

Dalam kondisi begini, alkom HT sangat bisa menjawab berbagai keperluan tersebut. Dari sekedar say hello antar warga sampai kebutuhan darurat seperti PAM swakarsa, touring otomotif, berbagai kegiatan indoor maupun outdoor serta panitia PHBI yang diadakan sesekali di komplek perumahan.

Mari kita budayakan mempunyai alkom HT untuk mengantisipasi apabila ada kondisi darurat seperti itu. Selain bisa mengakrabkan warga dengan cara senda gurau di ujung antena.

Silakan Komentar Bebas Tanpa Moderasi Namun Admin Berkuasa Untuk Mendelete

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: