Rabies Dan Eliminasi Jalanan

Siapa yang tidak kenal Bali πŸ˜• sebagaian orang seluruh dunia pasti mengenalnya tapi ada beberapa kejadian yang terjadi sekian bulan yang lalu (tepatnya akhir tahun 2008) yang membuat kita (khususnya masyarakat Bali) menjadi sedikit terusik olehnya. Yaitu merebaknya wabah rabies di Bali. Banyak cara penangulangan yang dilakukan oleh aparat yang berwenang terutama dinas kesehatan hewan, dinas peternakan serta karantina hewan namun sampai saat ini Bali belum 100% bebas rabies. Merupakan tugas kita semua (seluruh elemen masyarakat yang ada di Bali) untuk ikut mendukung tekad dari pemerintah Bali bebas rabies 2010.

Menurut statistik jumlah anjing liar yang ada di Bali 3000.000 dari seluruh populasi anjing yang ada (sekitar 500.000-600.000) dan itu sangat mungkin menjadi peyebar penyakit rabies (meskipun kucing dan monyet juga merupakan penyebar rabies namun anjing merupakan penyebar nomer satu).

Sementara tindakan mencegah dan mengurangi wabah penyakit rabies dilakukan dinas terkait sementara itu pula tindakan tersebut (mengeliminasi dengan cara dibunuh) mendapat kecaman dari dunia international. Karena tindakan tersebut dinilai meniadakan hak untuk hidup dari anjing-anjing tersebut. Hem….. repot juga ya πŸ˜• .

Saya sendiri sih kalau masalah yang berhubungan dengan anjing memang sangat takut apalagi untuk mendekati. Karena dari kecil memang tidak pernah berinteraksi dengan binatang yang namanya anjing.

Ada cerita menarik sewaktu tahun-tahun pertama tinggal di Bali. Kejadiannya terjadi sekitar tahun 1993 an. Pas sewaktu berangkat kerja shift malam di sebuah hotel di bilangan Kuta saya naik sepeda gunung (yang lagi ngetren pada tahun tersebut) dengan santainya aku kayuh sepedanya. Karena menjelang tengah malam banyak anjing yang keluar dari rumah pemiliknya. Pas aku lewat sebuah rumah dan kebetulan agak gelap karena memang tidak dipasang lampu jalan, sang anjing mengejarku dan mengongong sekeras-kerasnya (dikira aku ini maling yang mau nyatroni rumahnya kaleee 😦 padahal aku gak ada tampang maling ha…ha…ha….). Kontan aja aku menjalankan sepeda dengan sedikit ngebut sambil melihat ke belakang, tujuannya cuma satu jangan sampai anjing tersebut mengigitku. Dasar lagi apes, karena melihat kebelakang jalannya sepeda akhirnya miring kepinggir. Akhirnya selokan di pinggir jalan yang menjadi tempat pendaratanku. Saking marah dan jengkelnya pada anjing yang mengejar tersebut, gantian sekarang. Aku yang marah dan mengambil kayu mengejar anjingnya πŸ˜† . Dasar anjing.
Aku kejar dengan kayu ditangan malah lari terbirit-birit. Padahal maksud hati maunya meng-eleminasi anjing tersebut.

Bicara tentang eliminasi anjing, aku gak habis pikir kenapa banyak orang luar negeri sonoyang uring-uringan. Padahal dengan eleminasi banyak tujuan yang diharapkan oleh pemerintah. Tapi ya udah, itu memang masih di wilayah tugas dan tanggng jawab pemerintah. Tapi yang akan aku bahas kali ini dalam postingan ini yaitu eleminasi dengan cara yang lebih tidak manusiawi.

Ini gambar kucing karena cari gambar anjing gak dapat

Ceritanya begini (postingan ini banyak ceritanya ya…. :mrgreen: ). Setiap hari aku selalu menjalankan rutinitas Tabanan-Denpasar. Berangkat pagi pulang sore selalu saja begitu. Pas lewat dijalanan tersebut, bisa aku pastikan (kejadiannya hampir tiap minggu) ada saja daging teronggok di tengah jalan. Dari kejauhan aku juga melihat, kenapa ada daging yang dibiarkan di tenggah jalan tanpa ada orang yang mau mengambil serta dengan bau amis dan anyir darah menyebar sampai mau muntah aku melihatnya & kena bau amisnya . setelah semakin dekat baru aku ngeh, bahwa daging itu adalah bangkai anjing yang tertabrak mobil dan terlinds rodanya.

Yang jelas onggokan daging tersebut berasal dari anjing liar atau ada yang punya yang tertabrak kendaraan. Kalau yang menabrak pengendaraa sepeda motor aku yakin bahwa yang jadi korban si anjing + pegendaraa sepeda motor tersebut. Tapi yang ini pasti yang nabrak mobil, bus atau truk yang mamang setiap hari berlalu-lalang dijalanan itu.

Kalau aku perhatikan lagi bangkai anjing tersebut dibiarkan berada dijalanan tanpa ada orang yang mau peduli dengan keberadaannya. Padahal dengan keberadaannya banyak orang yang terganggu dengan bau nya serta pemandangan πŸ˜• . Belum lagi penyakit yang akan ditimbulkan dengan adanya bangkai tersebut. Aku prihatin tapi tidak bisa berbuat apa 😦 . Sampai beberapa hari berikutnya bangkai tersebut menjadi tipis jadi dendeng kaleee karena semakin dilindas kendaraan yang melintas serta kejemur dengan panas yang menyengat di atas aspal jalanan.

Ini merupakan cara peng-eliminasi an yang tidak beradab. Seandainya ada pihak luar sono yang menyoroti serta mengecamnya, aku setuju. Tapi cara yang dilakukan oleh dinas terkait masih dikecam, aku gak banyak komentar. 😦
Bagaimana menurut anda sendiri ❓ ❓ ❓ ❓

P.S: maaf seandainya postingan ini menganggu selera makan anda.

Update Tgl 9-12-2009:

Maaf sekali lagi karena gambarnya menyerupai kucing karena memang gambar kucing πŸ˜† . Padahal setiap ada anjing yang tertabrak di jalan dan menjadi bangkai aku selalu lewat dan ada camera digital di tangan tapi setiap kali ada kejadian keberanianku untuk mendekat menjadi hilang. Akhirnya malah lari menghindar karena bau amis yang menyebar serta tidak tega melihatnya.

Iklan

36 Responses to Rabies Dan Eliminasi Jalanan

  1. molinbangunan berkata:

    Eliminasi dengan menbabibuta sangat merugikan belum tentu yang kena eliminasi terjangkit rabies.

    Salam Dahsyat
    http://iklanbaris-gratis.org

  2. Kampret Nyasar berkata:

    Perlu pendekatan yang menyeluruh melibatkan semua unsur dalam masyarakat, dan kebijakan Depkes & Pemprov..

    Dari sisi blogger ya membantu sosialisasi ttg Rabies dan apa yang bisa dilakukan dalam skala individu untuk mengatasinya. Singkatnya Blogger punya peranan memberdayakan lingkungan agar bersam-sama berkontribusi mengentaskan amsalah ini, ketimbang hanya media expose saja.

    Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari afrika barat!

  3. Wempi berkata:

    bukannya itu gambar kucing?

    postingan ini mengganggu selera ngeblog wempi πŸ˜†

  4. alamendah berkata:

    (maaf) izin mengamankan KEEMPAT dulu. Boleh kan?!
    saya paling takut dengan anjing.
    Lucu, ya..
    Btw, bukankah itu gambar kucing?
    Wekekekekek

  5. prafangga berkata:

    Itu kucing apa anjing sich??
    Kucing kan ^.^

  6. imadewira berkata:

    masalah rabies di Bali khususnya Tabanan memang semakin menjadi…

  7. soyjoy76 berkata:

    Sama mas, saya juga ngga gitu akrab sama anjing. Dulu waktu kecil pernah dikejar anjing sampe terbirit-birit lari dan nyungsep di aspal.. 😦

  8. kakve-santi berkata:

    untung di jogja gak banyk anjing, hehe

  9. fatma berkata:

    saya pernah ke bali dan di sana memang banyak anjing ya..semacam hewan peliharaan yg umum begitu?
    atau anjing liar yg g ada pemiliknya?
    di sana mungkin anjing yg terlindas,,
    klo di bandung..
    TIKUS!!!
    hiii,,,
    hampir di setiap jalan yg saya lalui ada tikus gepengnya,,(bekas tergilas)
    itu berarti bandung kotor ya,,
    mmm,,,

    salam kenal
    ^^

  10. Khery Sudeska berkata:

    Setuju, Mas. Dan saya cukup setuju eliminasi hewan, asal dengan cara beradab, yang dilakukan pemerintah. Tentu saja eliminasi yang melalui pemeriksaan yang detail terlebih dulu apakah hewan tersebut terjangkit atau tidak…

  11. tuteh berkata:

    Pak, protes dikit… boleh? Itu gambar kucing, bukan gambar anjing… hehehe πŸ˜€

    Btw saya juga paling takut sama anjing karena emang dari Agama nggak boleh deket2 gituw πŸ˜€ ribet kalo bersihin najisnya. Ya itu dalam ajaran Agama kami… tapi bukan berarti saya kalo ketemu anjing langsung main sikat ato lempar batu :p ya enggak lah, asal nggak diganggu aja πŸ˜€

    Btw soal rabies ini kalo Ende sih pernah tertular penyakit yang satu ini sampe ada korban jiwa… jadi memang perlu hati2 dan vaksin itu mesti diingat.

  12. Ongki berkata:

    wah, ternyata benar, di bali bnyk anjingnya.. Temen saya cerita habis kerja di bali.. Tiap jalan kaki, pasti ada anjing..

  13. Itik Bali berkata:

    Pak Sugeng tinggal di Bali juga ya?
    Salam kenal ya pak..

    Sayang Bali kini bukan daerah bebas rabies
    sayang kita tak mampu menjaga daerah indah ini dari terjangkitnya rabies
    Ironisnya di Tabanan korbannya adalah ibu teman adik saya yang terkena gigitan anjing gila ini..

  14. indra java berkata:

    SEMANGAT PAGI…
    olahraga BW :mrgreen:

  15. pushandaka berkata:

    Saya cukup prihatin dengan anjing yang dibiarkan berkeliaran di luar rumah seperti yang banyak kita lihat di Bali. Apalagi kalau kemudian anjing itu sampai ndak terawat dan berpenyakit.

    Makanya saya memberikan pengawasan super ketat terhadap anjing peliharaan saya supaya ndak berhubungan dengan anjing-anjing liar itu.

    Pengalaman kejar-kejaran anda dengan anjing di atas kocak banget. Saya ngakak membacanya. Hehe!

  16. Blogex berkata:

    Kalau membawa Rabies memang sebaiknya dimusnahkan agar tak mengganggu.Caranya bentu yang baik.
    Salam hangat dari Surabaya

  17. BlogCamp berkata:

    Bagaimana sebenarnya memberantas rabies itu yang benar agak tak menimbulkan ekses negatif.
    Bagaimanapun juga anjing penyebar rabies harus disngkirkan dengan cara yang baik agar tak mengganggu.
    Salam hangat dari Surabaya

  18. Kluwung berkata:

    Mengapa rabies masih berkembang diwilayah ini. Itu kan membahayakan manusia. Perlu diambil langkah massive agr tak berkembang terus.
    Salam hangat dari Surabaya

  19. Seminyak hotels berkata:

    wah ngeri banget kayak pembataian aja tue

  20. Dangstars berkata:

    Kucing dan anjing,awas rabies
    πŸ˜›
    πŸ˜€
    πŸ˜›

  21. Cahya berkata:

    Wah…, padahal saya suka kucing πŸ™‚

  22. astiti berkata:

    eliminasi anjing liar dan anjing yang tidak divaksin memang bisa membantu mencegah penyebaran rabies….
    kalau mau protes ya vaksin dulu anjing / kucing / monyet peliharaannya dan tunjukkan bukti vaksin pada petugas, kalau belum divaksin ya terpaksa dibunuh.
    Kan tujuannya untuk kesehatan bersama… ya kan?

  23. isnuansa berkata:

    Kasihan Anjingnya… [meski gambarnya kucing]

  24. Ngabehi berkata:

    Mungkin cara mengeliminasi-nya yang perlu di rubah, contohnya semua anjing ditangkap hidup2 dan ditaruh di tengah hutan yang dikasih pagar keliling, sekalian buat pariwisata gitu.
    oya mas,maaf baru bisa berkunjung.

  25. Artha berkata:

    duh ya jadi pingin takut nih ama anjing

  26. badruz zaman berkata:

    hewan juga bernyawa. dan yang memberikan nyawa itu Tuhan, sudah sepantasnya mempelakukan hewan dengan tidak menyakiti. kalaupun ada eliminasi…ya dengan cara yang tidak menyakiti. karena ini juga dalam rangka ingat yang punya nyawa. πŸ™„

  27. Nisa berkata:

    waduh, saya lg makan neh pak :mrgreen:

  28. cinta72 berkata:

    gawat dong kalau wabah rabies menyebar di wilayah kita…
    salam kenal..

  29. larejawi berkata:

    aku wedhi karo sing jenenge asu…(anjing)
    😦

  30. M Mursyid PW berkata:

    Selamat tahun Baru 2010.
    Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
    Salam hangat dari Pekalongan

  31. oelil berkata:

    Sugeng warso enggal pak…
    sukses selalu

  32. hidayanti berkata:

    mudah2an bisa di atasi wabah nya πŸ™‚

  33. Bambang Maraeso berkata:

    saya tiga hari lalu digigit tikus ditelapak kaki saya
    apakah ini bisa berpotensi rabies….!!!

  34. AAN berkata:

    Baca juga ini Apa itu rabies

    maksih telah berkunjung, langsung ke TKP ➑ ➑ ➑

Silakan Komentar Bebas Tanpa Moderasi Namun Admin Berkuasa Untuk Mendelete

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: