Kehilangan

9 April 2017

Lama tidak membuat coretan di blog, karena males dengan keadaan blog yang tidak kunjung baik setelah diserang oleh postingan yang tidak tahu datang dari mana. Kalau dilihat dari model tulisannya, tulisan yang terposting di blog ini berasal dari semacam kontak jodoh / situs pertemanan yang pernah diri ini ikuti beberapa tahun yang lalu. Diri ini sendiri tidak ingat karena lamanya, yang kuingat hanya semua kontak di email yang terdaftar di sana dikirimi secara otomatis dengan tulisan semacam yang tertulis di blog ini. Hal ini diriku ketahui dari teman yang mengirim balik postingan itu padaku. Pokoknya bikin males nulis dan enegh dengan keadaan blog ku.

Tapi lama tidak membuat coretan ada seberkas rasa kangen dengan dunia pertulisan, per postingan dan pengeblog-an ini. Dan momentnya diri ini merasa kehilangan saat melihat anak tetangga depan rumah yang merayakan ulang tahun di rumahnya. Tidak ada yang aneh dan salah dengan perayaan ulang tahun ini, namun yang membuat hati ini ikut merasa terenyuh dan terharu adalah anak tetangga dekat ini baru ditinggal kedua orang tuanya hampir berbarengan. Hanya selisih sekitar 3,5 bulan. Ibunya terlebih dulu terus disusul oleh bapaknya. Padahal usia tetangga dekat diri ini tidak beda jauh, malah bisa dibilang sepantaran. Tapi takdir berkata lain.

Malam ini merupakan kali pertama ulang tahunnya tanpa kehadiran orang tua. Dan hal ini yang membuat diri ini merasakan kehilangan yang sangat dalam. Jujur saja, tetangga ini merupakan tetangga yang dekat dengan ku. Dekat secara lokasi yang cuman depan rumah, dekat karena sering ngobrol diriku dan istriku, dekat karena membangun rumah dan menempatinya hampir bersamaan. Meskipun kami beda keyakinan tapi (menurut Sunnah Rasul) tidak menyurutkan ikatan kekeluargaan dan kerukunan bertetangga kami.

Biasanya almarhum orang tuanya kalau pas ada acara begini selalu memanggil kami sekeluarga untuk ikut merayakan. Tapi malam ini tidak, beda. Meskipun anaknya yang sedang ulang tahun meminta ijin untuk membuat keramaian di depan rumahnya. Tetapi kedekatan emonsial kami yang membuat diri ini ngerasa beda. Ya, saya cuman melihat aura yang berbeda dengan keadaan rumahnya. Kadang secara tidak sadar, diri ini merasakan bayangan almarhumah ibunya yang sedang melaksanakan aktivitas sehari2. Cuman sekedar bayangan meski diriku yakin bahwa perasaanku ini salah.

Mungkin diriku merasakan kehilangan tetangga dekat sampai-sampai tetap saja diriku beranggapan beliau  masih ada. Semoga itu hanya perasaanku saja.

Iklan

Hati-hati Dengan Ayam Betutu

8 Juni 2015

Kejadian ini diriku alami kemarin siang  saat diundang dalam acara khitanan. Karena khitan diriku juga yakin saja bahwa makanan yang di hidangkan adalah makanan yang halal dan toyib. Pastinya sang sohibul hajat pasti muslim dan tahu makanan apa saja yang boleh dimakan dan apa yang tidak boleh dimakan oleh orang muslim, termasuk diriku. Dan yang diundang secara khusus dalam acara walimatul khitan ini adalah majelis taklim Al-Ikhlas, kecamatan Kediri kabuaten Tabanan (kelompok pengajian perumahaanku dimana diriku juga bagian dari jamaahnya). Mestinya sang sohibul hajat menyediakan makanan yang memang boleh dimakan oleh orang Islam (halal dan toyib) LanjutGan Mbacanya


Pengalaman Rebutan Produk Baru

2 Juni 2015

Bagaimana rasa pengalamam pertama dalam lelang / launching perdana produk baru secara online ?!? Diriku tidak pernah mengikuti lelang online untuk produk-produk baru karena biasanya dilakukan di hari kerja, namun tidak untuk kali ini. Ya hari ini diriku mencoba sensasi lelang (baca: rebutan beli) perdana produk baru gadget di situs jualan online. Mestinya hal itu sudah diriku rencanakan karena launchinya dilakukan pas hari libur dan diriku ada dirumah. Ya maklum, kalau pas hari kerja selalu saja ada kesibukan yang tidak bisa di tinggalkan. Makanya jauh hari sebelumnya diriku sudah mendaftarkan email disana. Apalagi ada iming2bagi yang beruntung bisa mendapatkan gadgetnya gratis atau beli 1 dapat 2.

Dan tanpa ragu-ragu diriku sudah menyiapkan semuanya termasuk waktu (nongkrongin monitor plus menunggu detik-detik berganti menjadi jam 11 siang WIB) dan metode pembayarannya. LanjutGan Mbacanya


Menunggu Internet Cepat Untuk Apa

17 Mei 2015

“…ada angin surga yang datang di komplek perumahanku…..”

Tak terasa sudah hampir setengah tahun diriku tidak ngeblog, dan harus kuakui dengan tidak ngeblog / hiatus sekian bulan diriku menjadi kuper dengan hal yang berbau tulisan. Jangankan membuat tulisan jadi, baru nulis draf awal saja kadang tidak pernah finish. Sampai nyetatus di facebook saja tidak sempat. Lho, masa bikin status saja gak sempat ?!? Iya benar, gak sempat. Maksudnya gak sempat mikir. :mrgreen:
Karena tidak pernah membaca tulisan orang jadi gak bisa membuat tulisan serta otak jadi mandeg.

Hiatus itu koq ada hubungan dengan susah membuat tulisan sih ❓ ya memang ada setidaknya bagi blogger kacangan seperti diriku. Terus kenapa koq hiatus ngeblog ? Masalahnya sepele sih, hiatus ku itu karena tidak ada koneksi internet di rumah. 😥 ya semenjak layanan flexi hilang dan mengharuskan pelanggan untuk migrasi ke kartu **, diriku sudah hilang hasrat untuk menggunakan layanannya. Karena yang diriku tahu bahwa layanan berbasis gsm tidak senyaman CDMA. Nyaman speednya dan nyaman quotanya. Speed sampai 150Kbps sedangkan quota unlimited. Gimana gak membuat diriku nyaman kalau mendapatkan yang seperti itu. Tapi itu dulu, sebelum awal tahun sedangkan sekarang sudah almarhum. 😦

Namun ada angin surga yang datang di komplek perumahanku pertengahan bulan Januari kemarin. Bahwa layanan telpon kabel tel*** akan masuk wilayah perumahanku. Asyik….pikirku karena telpon kabel pasti ada layanan sapidi yang bisa untuk internetan. Saat diriku browsing tentang harga bulanan sapidi untuk speed yang 512kbps ternyata lebih 3x dari harga bulanan flexi. Yeah gak papa dah, asal stabil dan unlimited. Dan menurut informasi, kalau pendaftarnya banyak (kolektif minimal 15 pendaftar) bisa cepat tak lebih dari sebulan.

Ternyata tunggu punya tunggu layanan sapidi ini sudah tidak di jual lagi oleh telkom. 😮 Duh, belum dapat layanannya eh malah sudah ditutup. Sekarang di ganti dengan layanan indih*** yang memakai jaringan fiber optik sebagai sambungannya. Karena beda nama, harganya pun berbeda. Kalau sapidi 3x, kalau indih*** hampir 6xnya namun ditambah layanan TV kabel dan free nelpon 1000 menit ke sesama dalam satu kode area.

Koq tahu ?? Karena beberapa hari kemarin ada petugasnya yang mensurvei ke rumah. Mengukur lokasi wilayah perumahanku dari sto terdekat. Makanya diriku tahu bahwa sapidinya sudah tidak dijual dan diganti indih***. Oh ya, menurut petugasnya harga segitu itu untuk speed 3Mbps selain bonus yang lain itu. Dan lagi, masih menurut informasi dari petugasnya sambungannya akan rilis dan bisa digunakan tidak lebih sebulan lagi.

Sekarang diriku tinggal menunggu saja sambungan itu, entah sebulan atau setahun lagi. Yang jelas ada harapan lagi buat diriku untuk selalu on lagi di dunia maya, dan bisa update tulisan lagi di blog. Tapi dengan speed segitu diriku malah binggung, mungkin sebingung pak menkoimfo kabinet terdahulu “Internet cepat untuk apa ??” 😀


Resolusi Tuan Takôr

31 Desember 2014

Tahun 2014 tidak lama akan segera berganti dengan tahun 2015. Diriku tidak tahu disebut dengan tahun apa dalam penanggalan tiongkok (shio) karena bagiku tidak akan berdampak apapun dalam hidupu. Namun yang menjadi perhatianku adalah, tahun 2014 akan berlalu tapi tidak ada perubahan yang mendasar dalam diriku, dalam dunia tulis menulis, dalam dunia blogging. Karena bagiku salama ini aku menulis ya sekedar menulis untuk menghilangkan penat tubuh setelah seharian berkativitas. Dan karena nulisnya hnya untuk menghilangkan penat saja maka menulispun hany sekedar angin lalu dan tidak ada motivasi apapun.

Namun dalam beberapa postingan di FB tentang aktivitas blogger yang telah mendapat ini dan itu, hadiah maupun reward, untaian kasih ataupun kado dari perhelatan yang dilakukan di dunia maya ini, membuat diriku berpikir ulang. Apakah sudah benar idialisku untuk menulis ini ❓ LanjutGan Mbacanya


Tilang Dan Samsat, Banyak Gak Beresnya

14 Desember 2014

Beberapa hari ini diriku sangat peka dan hampir bisa dikatakan sensi dengan keadaan yang menimpaku. Bagaimana tidak, diriku yang jarang berurusan dengan aparat pemerintahan, dalam minggu ini 2 kali berurusan dengan aparat pemerintahan dan keduanya berakhir dengan “ngedumel”. Dan tulisan ini juga mau meneruskan teori tentang habits customer, bahwa konsumen yang puas akan meneruskan cerita kepuasannya pada 1 orang, dan bila tidak puas akan menceritakan ketidakpuasannya pada 10 orang. Gak tahu berapa orang yang nyasar di blog ini, yang penting diriku nulis biar uneg-uneg dihati bisa keluar. 🙂

Pertama, diriku akhir bulan kemarin sempat melakukan kesalahan dalam berlalu lintas. Ada larangan tidak boleh belok, diriku menerobos saja. Sialnya pas ada oknum polisi yang sengaja nyanggong / nunggu disana di tempat yang sedikit agak gelap. Jadinya diriku yang memang ngerasa bersalah tidak ada keinganan ataupun upaya agar bisa lolos. Begitupun saat oknum polisi itu menawarkan untuk sidang di pengadilan. Aku sih iya saja karena memang salah dan memang tidak ada niatan untuk damai karena kupikir mending uangnya masuk negara dari pada masuk ke oknum tersebut. Setelah selesai nulis di surat tilangnya sang oknum polisi tersebut dengan entengnya bilang, “Eman-eman uangnya pak (untuk bayar denda pengadilan)”. AS* begitu kataku dalam hati, daripada masuk kantongmu, mending masuk negara.

Aku bukan idalis untuk urusan semacam ini, karena diriku juga pernah “terpaksa berdamai” saat tertangkap oknum polisi sewaktu lewat marka jalan di perjalanan Jawa-Bali beberapa tahun yang lalu. LanjutGan Mbacanya


Selamat Tinggal Flexi

27 November 2014

Setelah sekian lama bergaul dengan komputer jadul yang ada di rumah yang disertai koneksi internet yang meskipun tidak kenceng sekali namun bagiku sudah lebih dari cukup, tiba-tiba koneksi yang biasanya bersahabat dengan lingkungan tempat tinggalku sekarang menjadi siput yang pincang kakinya. Jalannya lambat bahkan tidak jalan sama sekali. Padahal koneksi yang biasa diriku pergunakan lantjar djaja saja. Meskipun dengan harga minimum namun hasil yang aku dapatkan lebih dari ekspektasi yang diriku harapkan.

Langganan murah meriah dengan speed up to 3,2Mbps (sesuai dengan iklannya) selam ini tidak ada masalah. Meskipun sudah ada rumor yang menginformasikan akan migrasi ke jaringan GSM anak perusahaannnya, tapi bagiku tidak ada kendala yang berarti. Sampai beberapa hari yang lalu, tepatnya seminggu koneksinya cuma jalan di tempat. Lelet dan tidak bisa digunakan surfing & browsing kemana-mana. Bisanya cuman diam di tempat sambil berharap ada keajaiban di monitor ku. 😦

LanjutGan Mbacanya