Siapa yang tidak kenal Bali
sebagaian orang seluruh dunia pasti mengenalnya tapi ada beberapa kejadian yang terjadi sekian bulan yang lalu (tepatnya akhir tahun 2008) yang membuat kita (khususnya masyarakat Bali) menjadi sedikit terusik olehnya. Yaitu merebaknya wabah rabies di Bali. Banyak cara penangulangan yang dilakukan oleh aparat yang berwenang terutama dinas kesehatan hewan, dinas peternakan serta karantina hewan namun sampai saat ini Bali belum 100% bebas rabies. Merupakan tugas kita semua (seluruh elemen masyarakat yang ada di Bali) untuk ikut mendukung tekad dari pemerintah Bali bebas rabies 2010.
Menurut statistik jumlah anjing liar yang ada di Bali 3000.000 dari seluruh populasi anjing yang ada (sekitar 500.000-600.000) dan itu sangat mungkin menjadi peyebar penyakit rabies (meskipun kucing dan monyet juga merupakan penyebar rabies namun anjing merupakan penyebar nomer satu). Sementara tindakan mencegah dan mengurangi wabah penyakit rabies dilakukan dinas terkait sementara itu pula tindakan tersebut (mengeliminasi dengan cara dibunuh) mendapat kecaman dari dunia international. Karena tindakan tersebut dinilai meniadakan hak untuk hidup dari anjing-anjing tersebut. Hem….. repot juga ya
.
Saya sendiri sih kalau masalah yang berhubungan dengan anjing memang sangat takut apalagi untuk mendekati. Karena dari kecil memang tidak pernah berinteraksi dengan binatang yang namanya anjing.
Ada cerita menarik sewaktu tahun-tahun pertama tinggal di Bali. Kejadiannya terjadi sekitar tahun 1993 an. Pas sewaktu berangkat kerja shift malam di sebuah hotel di bilangan Kuta saya naik sepeda gunung (yang lagi ngetren pada tahun tersebut) dengan santainya aku kayuh sepedanya. Karena menjelang tengah malam banyak anjing yang keluar dari rumah pemiliknya. Pas aku lewat sebuah rumah dan kebetulan agak gelap karena memang tidak dipasang lampu jalan, sang anjing mengejarku dan mengongong sekeras-kerasnya (dikira aku ini maling yang mau nyatroni rumahnya kaleee
padahal aku gak ada tampang maling ha…ha…ha….). Kontan aja aku menjalankan sepeda dengan sedikit ngebut sambil melihat ke belakang, tujuannya cuma satu jangan sampai anjing tersebut mengigitku. Dasar lagi apes, karena melihat kebelakang jalannya sepeda akhirnya miring kepinggir. Akhirnya selokan di pinggir jalan yang menjadi tempat pendaratanku. Saking marah dan jengkelnya pada anjing yang mengejar tersebut, gantian sekarang. Aku yang marah dan mengambil kayu mengejar anjingnya
. Dasar anjing.
Aku kejar dengan kayu ditangan malah lari terbirit-birit. Padahal maksud hati maunya meng-eleminasi anjing tersebut.
Bicara tentang eliminasi anjing, aku gak habis pikir kenapa banyak orang luar negeri sonoyang uring-uringan. Padahal dengan eleminasi banyak tujuan yang diharapkan oleh pemerintah. Tapi ya udah, itu memang masih di wilayah tugas dan tanggng jawab pemerintah. Tapi yang akan aku bahas kali ini dalam postingan ini yaitu eleminasi dengan cara yang lebih tidak manusiawi.
Ceritanya begini (postingan ini banyak ceritanya ya….
). Setiap hari aku selalu menjalankan rutinitas Tabanan-Denpasar. Berangkat pagi pulang sore selalu saja begitu. Pas lewat dijalanan tersebut, bisa aku pastikan (kejadiannya hampir tiap minggu) ada saja daging teronggok di tengah jalan. Dari kejauhan aku juga melihat, kenapa ada daging yang dibiarkan di tenggah jalan tanpa ada orang yang mau mengambil serta dengan bau amis dan anyir darah menyebar sampai mau muntah aku melihatnya & kena bau amisnya . setelah semakin dekat baru aku ngeh, bahwa daging itu adalah bangkai anjing yang tertabrak mobil dan terlinds rodanya.
Yang jelas onggokan daging tersebut berasal dari anjing liar atau ada yang punya yang tertabrak kendaraan. Kalau yang menabrak pengendaraa sepeda motor aku yakin bahwa yang jadi korban si anjing + pegendaraa sepeda motor tersebut. Tapi yang ini pasti yang nabrak mobil, bus atau truk yang mamang setiap hari berlalu-lalang dijalanan itu.
Kalau aku perhatikan lagi bangkai anjing tersebut dibiarkan berada dijalanan tanpa ada orang yang mau peduli dengan keberadaannya. Padahal dengan keberadaannya banyak orang yang terganggu dengan bau nya serta pemandangan
. Belum lagi penyakit yang akan ditimbulkan dengan adanya bangkai tersebut. Aku prihatin tapi tidak bisa berbuat apa
. Sampai beberapa hari berikutnya bangkai tersebut menjadi tipis jadi dendeng kaleee karena semakin dilindas kendaraan yang melintas serta kejemur dengan panas yang menyengat di atas aspal jalanan.
Ini merupakan cara peng-eliminasi an yang tidak beradab. Seandainya ada pihak luar sono yang menyoroti serta mengecamnya, aku setuju. Tapi cara yang dilakukan oleh dinas terkait masih dikecam, aku gak banyak komentar. ![]()
Bagaimana menurut anda sendiri
P.S: maaf seandainya postingan ini menganggu selera makan anda.
Update Tgl 9-12-2009:
Maaf sekali lagi karena gambarnya menyerupai kucing karena memang gambar kucing
. Padahal setiap ada anjing yang tertabrak di jalan dan menjadi bangkai aku selalu lewat dan ada camera digital di tangan tapi setiap kali ada kejadian keberanianku untuk mendekat menjadi hilang. Akhirnya malah lari menghindar karena bau amis yang menyebar serta tidak tega melihatnya.











